Jejak konservasi mangrove oleh wanita Desa Berakit

April 3, 2025 By earthnowadmin

Pada Selasa (11/3) siang, langit biru dan awan putih mengiringi perjalanan sejauh 49 km dari Tanjungpinang ke Desa Berakit, Kecamatan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau.

Perjalanan darat selama kurang lebih satu jam itu tidak terasa membosankan karena jalan yang lurus menyusuri pinggiran pantai menuju wilayah timur Kabupaten Bintan, yang dikenal sebagai permata yang tersembunyi.

Kami melewati Pantai Trikora, yang terkenal dengan bibir pantai berpasir putih dan makanan Pizza Italianya, untuk menuju Desa Berakit.

Sebagai pusat pariwisata, wilayah ini memiliki banyak sanggraloka yang mudah diakses yang menawarkan pemandangan alam bahari yang indah. Lokasi ini menarik turis, terutama dari Malaysia dan Singapura.

Desa Berakit di Kecamatan Teluk Sebong sangat dekat dengan Malaysia; itu hanya 45 menit menyeberangi lautan dan berbatasan langsung dengan Laut China Selatan. Keindahan pantai Bintan menarik wisatawan Singapura.

 

Namun, saat sektor pariwisata meningkat, beberapa masyarakat nelayan di daerah tersebut mulai khawatir karena pembangunan telah merusak ekosistem mangrove dan menghalangi tangkapan ikan.

Selain itu, mereka mengalami musim paceklik selama musim angin Utara, yang berlangsung dari bulan November hingga April. Musim ini sangat berbahaya bagi kapal nelayan berukuran kecil karena angin dapat merusak kapal dan mengancam nyawa nelayan.

Pembangunan industri wisata dan penggunaan hutan mangrove sebagai sumber ekonomi melalui pembuatan kayu bakar adalah dua faktor yang menyebabkan kerusakan hutan mangrove di wilayah tersebut.

Kampung Panglong, Desa Berakit, masih memiliki sisa-sisa penggunaan hutan bakau untuk membuat kayu arang yang diekspor ke luar negeri. Tiga dapur arang berdiri kokoh di daerah ini, sekarang menjadi objek wisata.

Menurut Yayasan Ecology Kepulauan Riau (YEKR), setidaknya 64 hektare hutan mangrove di Desa Berakit, Bintan, harus ditanam kembali.

Monika (53), seorang nelayan perempuan dari suku laut Desa Berakit, menyadari pentingnya menjaga hutan Mangrove karena perubahan paradigma.

Dia menceritakan bahwa saat dia bekerja di dapur arang arang Kampung Panglong bersama ketiga anaknya, dia bisa memperoleh penghasilan harian untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, terutama selama musim paceklik. Top (63) dan kedua anaknya membakar di dapur arang bersama suaminya yang pergi mengambil kayu bakau.

 

Empat anak bekerja di dapur arang. Bapak nebang bakau, kami bekerja di darat. Satu ton kayu bakau baru dihargai 35 ribu rupiah. Monika ingat saat bertemu di Kampung Panglong, Kamis (13/3), bahwa kapal dapat memuat 2 hingga 2,5 ton per hari.

Dapur arang ditutup pada awal tahun 2000 karena pemerintah melarang penebangan hutan bakau karena telah mengalami degradasi. Masyarakat nelayan Desa Berakit secara bertahap beralih dari menebang hutan bakau ke mengandalkan pencarian ikan, kepiting, kerang, dan teripang melalui laut.

Nelayan Desa Berakit mengalami kerusakan hutan mangrove. Untuk mendapatkan tangkapan laut yang bagus, mereka harus menyeberangi laut lebih jauh. Beberapa nelayan bahkan masuk ke perairan negara tetangga.

Selain itu, selama musim angin utara, beberapa nelayan konvensional berhenti melaut dan beralih ke pekerjaan lain: beberapa berdagang, yang lain bekerja sebagai kuli bangunan.

Musim ini, tugas istri tidak hanya menjadi ibu rumah tangga. Beberapa perempuan di Desa Berakit bekerja sebagai pekerja dan ibu rumah tangga sekaligus. Ada yang pergi melaut untuk mencari teripang atau gamat di padang lamun, dan ada pula yang memulai bisnis mereka dengan menjual kue, menjahit, dan menjadi guru.

 

Yayasan Care Peduli (Care Indonesia) muncul karena peran besar perempuan di Desa Berakit ini. Mereka mendampingi pendidikan, mengajarkan keterampilan baru, dan mendorong pentingnya memanfaatkan lingkungan pesisir dengan menjaga kelestarian.

Perempuan Desa Berakit dilatih untuk mencari bibit mangrove, menyemai dan menanam, serta melaut mencari gamat dan umpan. Sejak Agustus 2024, gerakan ini telah berhasil menyemai lima puluh ribu bibit mangrove yang siap ditanam di satu hektare wilayah mangrove yang telah hancur. Pada April 2025, bibit ini akan ditanam di sana.

Setelah Kementerian Kelautan dan Perikanan menetapkan kawasan konservasi perairan seluas 138.561,42 hektar di timur Pulau Bintan pada tahun 2022, upaya untuk menjaga mangrove Desa Berakit semakin kuat.

Yayasan Care Peduli (Care Indonesia) memimpin pergerakan perempuan Desa Berakit untuk menjaga mangrove dengan prinsip keberlanjutan. Organisasi ini bekerja sama dengan Yayasan Ecology, lembaga swadaya masyarakat (NGO) lokal, sebagai perpanjangan tangan di lapangan.

Selain meningkatkan kesadaran akan manfaat mangrove bagi lingkungan dan ekosistem, wanita di Desa Berakit diajarkan keterampilan membatik baru untuk memanfaatkan dan mengelola hutan bakau sebagai sumber ekonomi dengan cara yang ramah lingkungan.

Sejak Agustus 2024, perempuan Desa Berakit dilatih oleh Yayasan Ecology and Care Indonesia untuk mencari bibit mangrove, menyemai, dan merawat bibit untuk ditaham. Mereka juga diajarkan membatik ecoprint dan cap dengan pewarna alami dari batang pohon bakau.

Desa Berakit tengah sedang membangun ekowisata hutan mangrove, jadi batik sangat dihargai. Kain berkualitas tinggi yang dibuat oleh ibu-ibu Desa Berakit dapat menjadi cinderamata bagi wisatawan lokal dan asing.

Ibu-ibu Desa Berakit dari Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) Tenggiri dan KUEP Melati membuat banyak kain batik dengan motif bunga mangrove dengan warna yang teduh.

Menurut Rahima Zakia, Pendamping Kelompok Perempuan Yayasan Ecology, ibu-ibu Desa Berakit membuat batik dengan motif mangrove. Batik ini telah ditampilkan dalam acara UMKM di seluruh Kabupaten Bintan.

Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang batik yang dibuat oleh ibu-ibu Desa Berakit, sebuah kolaborasi antara Yayasan Ecology, Care Indonesia, dan UMKM Betuah Etknik saat ini sedang dipertimbangkan.

Rahima mengatakan bahwa ada peluang untuk memasarkan batik alami Desa Berakit ke Bali dan Singapura.